Minggu, 28 Oktober 2012

masalah sosial dimasyarakat


Masalah sosial yang ada dimasyarakat

Masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial.
Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial. Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam.
Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dll.
4. Faktor Psikologis : Penyakit syaraf, aliran sesat, dll.
1. Faktor Ekonomi, faktor ini merupakan faktor terbesar terjadinya masalah sosial. Apalagi setelah terjadinya krisis global PHK mulai terjadi di mana-mana dan bisa memicu tindak kriminal karena orang sudah sulit mencari pekerjaan.
2.Faktor Budaya, Kenakalan remaja menjadi masalah sosial yang sampai saat ini sulit dihilangkan karena remaja sekarang suka mencoba hal-hal baru yang berdampak negatif seperti narkoba, padahal remaja adalah aset terbesar suatu bangsa merekalah yang meneruskan perjuangan yang telah dibangun sejak dahulu.
3.Faktor Biologis, Penyakit menular bisa menimbulkan masalah sosial bila penyakit tersebut sudah menyebar disuatu wilayah atau menjadi pandemik.
4.Faktor Psikologis, Aliran sesat sudah banyak terjadi di Indonesia dan meresahkan masyarakat walaupun sudah banyak yang ditangkap dan dibubarkan tapi aliran serupa masih banyak bermunculan di masyarakat sampai saat ini.
Dalam pembahasan ini ada tiga  faktor  yang kiata bahas yaitu factor ekonomi,budayadan psikologis.
Faktor ekonomi:
            1.kemiskinan
   Kemiskinan dan kualitas lingkungan yang rendah adalah hal yang mesti dihilangkan tetapi tidak dengan menggusur masyarakat yang telah bermukim lama di lokasi tersebut. Menggusur secara paksa adalah hanya sekedar memindahkan kemiskinan dari lokasi lama ke lokasi baru dan kemiskinan tidak akan pernah berkurang. Bagi orang yang tergusur malahan penggusuran ini akan semakin menyulitkan kehidupan mereka karena mereka mesti beradaptasi dengan lokasi pemukimannya yang baru dan penggusuran secara paksa bahkan sampai dengan adanya unsure anarkisme itu adalah melanggar hak asasi manusia yang paling hakiki dan harus dihormati bersama.
Di Amerika Serikat, pendekatan peremajaan kota sering digunakan pada tahun 1950 dan 1960-an.2Pada saat itu pemukiman-pemukiman masyarakat miskin di pusat kota digusur dan diganti dengan kegiatan perkotaan lainnya yang dianggap lebih baik. Peremajaan kota ini menciptakan kondisi fisik perkotaan yang lebih baik tetapi sarat dengan masalah sosial. Kemiskinan hanya berpindah saja dan masyarakat miskin yang tergusur semakin sulit untuk keluar dari kemiskinan karena akses mereka terhadap pekerjaan semakin sulit.
Peremajaan kota yang dilakukan pada saat itu sering kali disesali oleh para ahli perkotaan saat ini karena menyebabkan timbulnya masalah sosial seperti kemiskinan perkotaan yang semakin akut, gelandangan dan kriminalitas. Menyadari kesalahan yang dilakukan masa lalu, pada awal tahun 1990-an kota-kota di Amerika Serikat lebih banyak melibatkan masyarakat miskin dalam pembangunan perkotaannya dan tidak lagi menggusur mereka untuk menghilangkan kemiskinan di perkotaan.
Kalau diIndonesia, paling sedikit kami menemukan dua masyarakat miskin di Jakarta yang melakukan aktivitas hijau untuk meningkatkan kualitas lingkungan sembari menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat miskin. Seperti dapat ditemui di Indonesia’s Urban Studies, masyarakat di Penjaringan, Jakarta Utara dan masyarakat kampung Toplang di Jakarta Barat mereka mengelola sampah untuk dijadikan kompos dan memilah sampah nonorganik untuk dijual.
Aktivitas hijau di Penjaringan, Jakarta Utara dilakukan melalui program Lingkungan Sehat Masyarakat Mandiri yang diprakarsai oleh Mercy Corps Indonesia. Masyarakat miskin di Penjaringan terlibat aktif tanpa terlalu banyak intervensi dari Mercy Corps Indonesia. Program berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan kualitas lingkungan kumuh di Penjaringan. Masyarakat di Penjaringan sangat antusias untuk melakukan kegiatan ini dan mereka yakin untu mampu mendaurlang sampah di lingkungannya dan menjadikannya sebagai lapangan pekerjaan yang juga akan berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan di lingkungannya.
Cara untuk mengatasi kemiskinan dan rendahnya kualitas lingkungan permukiman masyarakat miskin adalah tidak dengan menggusurnya. Penggusuran hanyalah menciptakan masalah sosial perkotaan yang semakin akut dan pelik. Penggusuran atau sering diistilahkan sebagai peremajaan kota adalah cara yang tidak berkelanjutan dalam mengatasi kemiskinan.

2. pengangguran
Pengangguran dan Pengertiannya
Dalam indikator ekonomi makro ada tiga hal terutama yang menjadi pokok
permasalahan ekonomi makro. Pertama adalah masalah pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi dapat dikategorikan baik jika angka pertumbuhan positif
dan bukannya negatif. Kedua adalah masalah inflasi. Inflasi adalah indikator
pergerakan harga-harga barang dan jasa secara umum, yang secara bersamaan
juga berkaitan dengan kemampuan daya beli. Inflasi mencerminkan stabilitas
harga, semakin rendah nilai suatu inflasi berarti semakin besar adanya kecenderungan ke arah stabilitas harga. Namun masalah inflasi tidak hanya berkaitan dengan melonjaknya harga suatu barang dan jasa. Inflasi juga sangat berkaitan dengan purchasing power atau daya beli dari masyarakat. Sedangkan daya beli masyarakat sangat bergantung kepada upah riil. Inflasi sebenarnya tidak terlalu bermasalah jika kenaikan harga dibarengi dengan kenaikan upah riil. Masalah ketiga adalah pengangguran. Memang masalah pengangguran telah menjadi momok yang begitu menakutkan khususnya di negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Negara berkembang seringkali dihadapkan dengan besarnya angka pengangguran karena sempitnya lapangan pekerjaan dan besarnya jumlah penduduk. Sempitnya lapangan pekerjaan dikarenakan karena faktor kelangkaan modal untuk berinvestasi. Masalah pengangguran itu sendiri tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang namun juga dialami oleh negara-negara maju. Namun masalah pengangguran di negara-negara maju jauh lebih mudah terselesaikan daripada di negara-negara berkembang karena hanya berkaitan dengan pasang surutnya business cycle dan bukannya karena faktor kelangkaan investasi, masalah ledakan penduduk, ataupun masalah sosial politik di negara tersebut
Faktor budaya:

 

MASALAH SOSIAL BUDAYA YANG ADA DI MASYARAKAT SEKARANG

Permasalahan suatu masalah merupakan ketidaksesuaian antara unsur-unsur bagian dari kebudayaan atau masyarakat, yang dapat membahayakan kehidupan kelompok sosial. Hal itu disebabkan karena tidak sesuainya perilaku dan norma-norma kehidupan dengan gagasan atau ide nasional yang dikembangkan, serta adanya penyimpangan sosial yang terjadi dari tindakan yang tidak selaras dengan norma dan nilai sosial atau sekelompok individu yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak tertentu di dalam masyarakat. Penyimpangan sosial lazim ditandai oleh perbuatan atau tindakan yang mengabaikan norma/nilai sosial dari biasanya. Proses terbentuknya perilaku yang menyimpang salah satunya terjadi karena proses sosialisasi yang gagal, baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat. Jika proses sosialisasi tidak berhasil atau gagal, maka seseorang tentu saja tidak mampu memahami apalagi menaati nilai-nilai sosial atau norma yang berlaku di masyarakat. Jika seseorang atau kelompok tidak mampu menaati norma yang berlaku, maka saat itulah terjadi penyimpangan sosial. Apabila terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada tersebut dapat menimbulkan gangguan bagi hubungan sosial seperti kegoncangan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat sekitar yang keadaan tersebut juga akan mengakibatkan penyimpangan sosial.

Penyimpangan sosial dalam masyarakat terjadi karena warga masyarakat tidak mampu dalam menyesuaikan diri dengan tata nilai dan norma yang ada. Kegagalan masyarakat menyesuaikan diri disebabkan oleh adanya beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain, penyimpangan sosial yang terjadi dalam masyarakat yang bermula dari penyimpangan dalam keluarga. Penyimpangan sosial dalam masyarakat terjadi jika seseorang atau sekelompok orang melakukan tindakan yang bertentangan dengan kaidah-kaidah dalam masyarakat yang berlaku, sebagai contoh : pencurian, pemerkosaan, perampokan dan lain sebagainya. Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 jenis faktor kehidupan antara lain yaitu : adanya faktor ekonomi, seperti : kemiskinan dan pengangguran, faktor budaya, seperti : pergaulan, perceraian, dan kenakalan remaja, faktor biologis, seperti : penyakit menular dan keracunan makanan, kemudian adanya faktor psikologis seperti : penyakit saraf dan aliran sesat.

Hal tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa masalah sosial yang muncul dalam kehidupan kita sehari-hari, karena akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan kenyataan yang ada yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam yang terjadi. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat dan lain- lain.










Faktor psikilogis
faktor psikologis yaitu adanya aliran sesat yang menebarkan radikalisme agama, yang ujungnya dapat kita lihat berupa fenomena terorisme. Bukan berasal dari dalam negeri kita sendiri tapi merupakan buah pemikiran bangsa asing, dimana melawan suatu kekuatan besar musuh dengan menggunakan/menyasar target lemah tapi mempunyai dampak teror besar (soft target but high profile). Seperti kata pepatah "patah satu tumbuh seribu", ternyata radikalisme seperti tumbuh subur ditengah-tengah masyarakat kita. Bukannya berkurang ketika diberantas tapi bermunculan teroris-teroris baru, baik yang terlibat langsung dalam aksi terorisme atau cuma membantu para teroris menjalankan aksinya.

Radikalisme seperti sebuah penyakit yang sangat menular, menjangkiti siapa saja yang telah melakukan kontak dengan sumber penyakit. Contoh kasus terjadi pada seorang sipir LP Kerobokan Bali yang bersimpati pada Imam Samudera dan membantunya dengan menyelundupkan sebuah laptop kedalam penjara untuk digunakan Imam Samudera berkomunikasi dengan dunia luar, dapat kita bayangkan seorang petugas koreksi/lembaga pemasyarakatan yang seharusnya dapat membina tahanannya malah ini sebaliknya malah "terbina" oleh orang yang seharusnya dia awasi.

Kita selalu berpendapat orang yang tertarik atau terpengaruh ideologi radikalisme agama itu orang yang bodoh, tidak mempunyai mental yang kuat hingga gampang terpengaruh atau memang rendah pendidikannya. Tapi setelah kita lihat lagi ternyata banyak orang-orang dari kalangan pendidikan tinggi yang juga ikut terlibat dan terpengaruh radikalisme (Mahasiswa,dosen, tenaga pengajar), mereka juga tidak kurang ilmu agamanya bahkan muncul dari kalangan yang mempunyai pendidikan agama yang dalam pula (lulusan pesantren, Ustad, lulusan perguruan tinggi agama dll). Tentunya mereka tahu dasar hukum agama ataupun hukum negara bahwa aksi mereka membantu atau bahkan terlibat langsung aksi teror itu adalah salah, tapi tetap saja mereka terlibat.

Upaya pemecahan masalah sosial ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama , negara membuat suatu kebijakan sosial yang benar-benar akurat yang didasarkan pada data dan informasi terkini. Kedua, masalah sosial ini dapat dipecahkan dengan melakukan tindakan bersama oleh masyarakat sehingga tercipta sebuah kondisi masyarakat yang lebih ideal .
Sebagaimana teori yang diungkapkan oleh Kotler, bahwa manusia dapat dengan mudah melakukan perbaikan terhadap kondisi kehidupan sosialnya asalkan mau dan mampu mengorganisir segala tindakan secara kolektif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar